Kirim Pesan YM

 

 

Posts Tagged ‘Ringkasan Buku’

The Last Lecture

the_last_lecture“Tembok penghalang berdiri disini karena suatu alasan, bukan untuk menghalangi kita. Tembok ini ada untuk memberikan kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu.” –Randy Pausch -

Pada 15 Agustus 2007, Profesor Randy Pausch ditemani Jai pergi ke Houston untuk melihat hasil CT scan terakhir. Saat itu, dirinya harus menerima kenyataan pahit bahwa berbagai pengobatan yang dilakukan tak mampu menjinakkan kanker pankreas dalam tubuhnya. Dokter mengatakan bahwa 10 tumor di levernya membuat hidup sang profesor hanya tersisa 3 hingga 6 bulan lagi.
Dilihat secara fisik, Randy tampak baik-baik saja. Bahkan saat mengisi seri kuliah terakhir di Carnegie Mellon University (CMU), Randy melakukan push up bahkan push up dengan satu tangan.
Randy tentu saja tak ingin menerima penyakit mematikan tersebut, namun dia sadar bahwa dirinya tak kuasa untuk mengubahnya. “Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, kecuali bagaimana cara kita memainkan,” ucap Randy. Randy tak ingin terpuruk karena takdir. Ia tetap tegar dan tak patah semangat dalam menjalani sisa hidupnya. Buku “The Last Lecture” dikembangkan dari kuliah terakhir yang diberikan oleh Randy Pausch pada 18 September 2007 di CMU, Pittsburgh, Pennsylvania.
Jeffrey Zaslow, seorang kolumnis bagi Wall Street Journal, membantu Randy untuk menuangkan kisah hidupnya dalam kumpulan kisah tertulis yang terbagi dalam enam bab. Ide membuat buku “The Last Lecture” ini muncul ketika Zaslow ikut menyaksikan kuliah terakhir yang menyentuh audience termasuk dirinya. Setiap pagi, Randy bersepeda sambil menelepon Jeffrey Zaslow untuk berbagi cerita yang hendak diwariskannya melaui headset ponselnya.
Randy lebih banyak berbagi kiat-kiat mengenai bagaimana ia benar-benar mewujudkan impian-impiannya semasa kecil. Randy membuat daftar impian mulai usia 8 tahun antara lain : melayang di udara, bermain di liga sepak bola nasional, menulis artikel tentang ensiklopedi buku dunia, menjadi Kapten Klirk, dan menjadi perekayasa di Walt Disney. Impiannya bermain di National Football League tak bisa terwujud, namun Randy tak pernah berhenti bermain sepak bola sebagai hobinya. Bahkan dokter Mehmet Oz sering diajaknya bermain saat berkunjung ke rumah Randy.
Selain dapat mewujudkan impiannya sendiri, Randy juga membantu mewujudkan impian orang lain, salah satunya adalah Tommy. Tommy adalah mahasiswanya ketika masih mengajar di University of Virginia. Tommy ingin ikut mengerjakan film Stars Wars berikutnya. Dan itu impian Tommy saat berumur enam tahun. Tommy banyak belajar tentang pemrograman realitas maya pada Randy dan selalu ingat akan kata-kata yang pernah Randy ucapkan padanya hinnga akhirnya, Tommy menjadi Direktur Teknis Utama dalam Stars Wars Episode II : Attack of the Clones.
Randy juga bercerita tentang ayah dan ibunya yang banyak memberikan pelajaran-pelajaran positif dalam hidupnya serta mendukungnya mewujudkan impian-impiannya. Ayahnya adalah seorang anggota korp medis dalam Perang Dunia II yang ikut bertugas dalam Pertempuran Bulge. Ayahnya selalu memberikan nasihat tentang bagaimana menegoisasi hidup ini. Sementara ibunya adalah seorang guru bahasa Inggris yang selalu berusaha keras membuat anak-anak didiknya pandai. Orangtuanya mengajarkan Randy serta kakaknya untuk hidup hemat dan dermawan. Ayahnya yang didiagnosa menderita leukemia pada usia 83 tahun mengatur agar tubuhnya disumbangkan untuk ilmu kedokteran.
Lalu mengenai pertemuannya dengan Jai di University of North Carolina hingga pernikahan mereka yang dirayakan di halaman sebuah rumah bergaya Victoria di Pittsburgh. Mereka membuat momen tersebut menjadi tak terlupakan dengan tidak menaiki mobil saat meninggalkan resepsi, namun dengan menaiki keranjang balon udara yang sangat besar dan berwarna-warni.
Randy sangat mencintai dan menghargai Jai. Jai yang selama ini selalu menjadi penyemangatnya. Bahkan Randy tak bersedia menukar 8 tahun usia pernikahan mereka dengan apa pun juga. Pada pemberian kuliah yang terakhir, satu hari setelah ulang tahun Jai, Randy mengajak empat ratus orang yang datang untuk menyanyikan lagu “Happy Birthday to Jai”. Mereka berpelukan dan berciuman. Selagi mereka berdekapan, Jai berbisik, “Tolong, jangan mati.” Randy menjawab dengan memeluknya lebih erat.
Banyak sekali yang ingin disampaikannya Randy untuk anak-anaknya sebelum dirinya meninggal. Namun dengan usianya yang masih begitu kecil, mereka tentu tak mengerti dan tak bisa mengingatnya. Dylan masih berusia 6 tahun, Logan berusia 3 tahun, sedangkan Chloe berusia 18 bulan. Oleh karena itu, sebenarnya “The Last Lecture” ini dipersiapkan untuk ketiga anaknya. Ia berharap pelajaran-pelajaran hidup yang disampaikannya dapat menjadi panduan bagi anak-anaknya untuk menjalani hidup mereka tanpa kehadiran ayahnya secara fisik. Randy mengungkapkan bahwa ia mempersiapkan “The Last Lecture” sebagai warisan bagi istri dan tiga anak-anaknya, Dylan, Logan, dan Chloe. Untuk ketiga anaknya, Randy ingin mereka menjadi apa yang mereka inginkan. Randy tahu mereka bisa menemukan jalan mereka sendiri dan berkembang dengan potensi mereka masing-masing.
Buku “The Last Lecture” diterbitkan pertama kali pada tahun 2008 oleh Hyperion yang merupakan anak perusahaan Disney di bidang penerbitan. Alasan Randy memilih penerbit tersebut lantaran dirinya terlanjur jatuh cinta pada Disney. Ufuk Publishing House membeli hak penerbitan buku ini pada Juni tahun 2008 dan menerbitkan “The Last Lesture” versi bahasa Indonesia.
Buku setebal 305 ini dapat dijadikan panduan serta inspirasi yang luar biasa bagi kita untuk pantang menyerah dalam perjuangan mewujudkan impian-impian. “Tembok penghalang berdiri disini karena suatu alasan, bukan untuk menghalangi kita. Tembok ini ada untuk memberikan kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu”. pesan Randy. Randy juga menyebutkan pentingnya menghargai setiap momen yang ada, karna momen tersebut tak kan bisa untuk di-replay layaknya video. Kata-kata yang dituliskan Randy dalam buku “The Last Lecture” mampu mengajak orang-orang yang berputus asa atau nyaris menyerah kembali bangkit untuk berani bermimpi serta menggapainya. Intinya, buku berisikan semangat moral ini amat layak dan patut untuk dibaca.
Rekaman video berdurasi 76 menit mengenai pemberian kuliah terakhir Randy di CMU membuat lebih dari enam juta orang pengakses youtube.com berurai air mata. Dalam waktu singkat, kisahnya tersebar seantero Amerika hingga dikenal di seluruh dunia. Kisah Randy pun mencuri perhatian Oprah Winfrey hingga Randy diundang dalam acara “Oprah Winfrey”. Kemudian, ia juga dinobatkan majalah Time sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia sepanjang tahun 2007 karna kisahnya yang mau membangkitkan semangat.
Akhirnya, Randy meninggal di usia 47 tahun tepatnya 25 Juli 2008. Ia bersyukur sebelum hari kematiannya tiba, ia bisa mempersiapkan dan meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada tambang emas.

Judul buku : The Last Lecture
Penulis : Randy Pausch dan Jeffrey Zaslow
Penerbit : Ufuk Publishing House
Tebal hal : 305 halaman
Harga : 59.900
Bonus : CD “The Last Lecture”

smallhalloweenincredibles_384_400

By

Sekar


How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca

how-to-read-a-bookBuku adalah sumber pengetahuan. Dengan membaca buku kita dapat mendapatkan informasi apapun tentang hal apapun di sekitar kita. Mulai dari buku ringan, tentang memelihara kucing misalnya, sampai buku Sosialisme karangan Karl Marx yang memeras otak kita. Semuanya sangat bermanfaat, kecuali beberapa buku yang isinya tidak penting tentunya.

Budaya membaca memang belum dicapai masyarakat kita. Sehingga minat baca masyarakat tergolong rendah. Padahal kebiasaan membaca buku berkorelasi positif dengan tingkat pengetahuan. Semakin sering membaca semakin bertambah pengetahuan kita. Maka tentu saja dapat kita buat teori bahwa semakin berpengetahuan masyarakatnya maka akan semakin maju peradaban bangsa tersebut. Untuk itu mulai sekarang membaca buku harus dibiasakan.

Ternyata membaca buku bukanlah yang sepele. Mengapa? Buku ditulis sedemikian rupa secara serius oleh penulisnya sehingga pembaca dapat menerima dan memahami informasi yang disampaikannya. Namun di sisi lain, pembaca juga dituntut berupaya untuk memahami maksudnya. Apabila pembaca tidak mampu mencapai pemahaman sebagaimana dimaksudkan si penulis maka aktivitas membacanya dapat dianalogikan seperti memakan makanan tanpa dikunyah. Akibatnya kita tidak dapat merasakan kenikmatan makanan itu.

Karena seriusnya membaca sebuah buku maka membaca buku memerlukan teknis. Seperti buku yang ditulis oleh J Doren yang berjudul How to Read a Book. Membaca buku ternyata memerlukan cara tersendiri agar kita dapat memahami apa yang dibicarakan penulis dalam buku tersebut. J Doren menyatakan bahwa membaca jenis buku satu dan yang lainnya tidaklah sama. Antara buku praktis dan buku teoritis mempunyai pendekatan yang berbeda begitu juga antara buku fiksi dan buku ekspositori.

Menurut Doren membaca buku dapat dikategorikan dalam 4 tingkatan.  Artinya bahwa tingkatan di atasnya menuntut kemampuan membaca di tingkat sebelumnya. Masing-masing mempunyai cara tersendiri untuk melaksanakannya.

Tingkat pertama adalah membaca dasar. Membaca Dasar adalah membaca dengan tujuan memahami makna dari kata-kata yang disampaikan. Memahami maksud dari kalimat itu. Intinya bahwa kita bisa memahami maksud dari tulisan yang kita baca.

Level yang lebih tinggi atau level yang ke dua adalah membaca Inspeksional. Membaca Inspeksional adalah level membaca dengan cara menembus pandang buku. Teknik ini membatasi waktu pembaca dalam memahami jenis buku dan perihal buku tersebut. Membaca inspeksional tidak membaca isi buku secara keseluruhan tapi mencoba menemukan garis besar atau kerangka isi buku dengan membaca bagian-bagian utamanya saja.

Level membaca ketiga adalah level Membaca Analisis. Membaca Analisis menuntut pembaca untuk membaca isi keseluruhan buku. Dalam level ini pembaca didorong untuk dapat menemukan masalah yang diungkapkan dan hendak diselesaikan oleh penulis, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap buku.

Level membaca tertinggi adalah level Membaca Sintopikal. Level Membaca Sintopikal menuntut energi yang lebih besar dari pembaca. Pembaca harus mampu menemukan sudut pandang penulis, dan membandingkan dengan buku-buku yang lain. Untuk sampai pada kemampuan membaca sintopikal, pembaca harus mempunyai kemampuan level membaca dasar, inspeksional, dan analisis.

Demikianlah garis besar buku How to Read a Book. Masih banyak sekali saran atau langkah yang salah satunya adalah menjadi pembaca yang penuntut.  Banyak lagi teknik-teknik lain dalam buku ini yang penting untuk diketahui. Temukan saran-saran penting lainnya dari buku ini dan jadilah pembaca yang benar dan handal atau anda akan menyesal seumur hidup.

  • Judul Buku : How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca
  • Penulis          : Mortimer J. Adler & Charles Van Doren
  • Penerbit        : iPublishing

By
Hajan