|
Archive for the ‘Self Development’ Category
Manajemen Waktu
July 7th, 2009 Tags: tips manajemen waktu Posted in Self Development | No Comments »
Penting VS Genting
Penting merupakan aktifitas Anda yang dianggap berharga. Kemudian aktifitas tersebut mendukung misi, nilai-nilai, dan tujuan Anda.
Genting merupakan aktifitas yang menuntut perhatian Anda segera. Aktifitas tersebut menuntut untuk segera ditanggapi serta diselesaikan segera.
Aktifitas Anda termasuk kuadran manakah ?
|
GENTING
|
TIDAK GENTING
|
|
PENTING
|
Krisis.
Masalah mendesak.
Pekerjaan atau proyek yang mendekati deadline.
Pertemuan atau rapat untuk suatu proyek atau menuntut kehadiran Anda segera.
Contoh :
Bekerja lembur karena pekerjaan harus selesai esok paginya.
Kuadran 1 : ATUR !
|
Persiapan.
Perencanaan.
Pencegahan.
Klarifikasi nilai-nilai.
Menjalin hubungan.
Rekreasi.
Contoh :
Menyicil pekerjaan jauh-jauh hari sebelum deadline.
Melakukan refresing untuk mengurangi stres.
Kuadran 2 : FOKUSKAN !
|
|
TIDAK PENTING
|
Interupsi.
Telepon, surat, laporan.
Banyak hal-hal menekan yang bisa diperkirakan.
Banyak aktifitas populer.
Contoh :
Menerima telepon.
Kuadran 3 : HINDARI !
|
Menonton televisi berlebihan.
Telepon, chatting tidak penting dan terlalu lama.
Pembicaraan negatif tentang orang lain (gosip).
Aktifitas-aktifitas "pelarian".
Contoh :
Menonton televisi berlebihan.
Bermain games.
Kuadran 4 : HILANGKAN !
|
Individu yang efektif adalah Anda yang berfokus pada kuadran 2 dan mengurangi waktu pada kuadran 1,3, dan 4 (mengurangi penundaan-penundaan, menolak aktifitas pada kuadran 3, serta mengurangi buang-buang waktu).
Cara menjadi individu yang efektif :
1. Mengantisipasi aktifitas di kuadran 1 dengan mengisi waktu di kuadran 2.
2. Menghilankan aktifitas di kuadran 3 dan kuadran 4.
3. Membebaskan waktu untuk aktifitas di kuadran 2.
Sumber : Materi PPKM, Universitas Sanata Dharma.
By
Sekar
Tips Sukses: “Memberikan 101% Kemampuan”
February 25th, 2009 Tags: tips sukses Posted in Self Development | 2 Comments »
Sering kita terjebak pada situasi di mana kita ‘diharuskan bekerja’ ataupun ‘diharuskan belajar’ karena berbagai keadaan yang menimpa kita. Ketika kita merasa diharuskan untuk melakukan sesuatu maka sering tanpa disadari kita hanya memberikan 30–75% kemampuan yang kita miliki. Sulit bagi kita untuk total memberikan seluruh kemampuan kita karena kita merasa ’terpaksa’ untuk menjalaninya.
Namun terkadang manusia juga harus dipaksa untuk sekedar menggugurkan kewajibannya. Manusia sebetulnya sadar akan manfaat suatu aktifitas yang seharusnya dia lakukan, namun dia enggan untuk melaksanakannya karena berbagai macam alasan. Sampai pada akhirnya orang tersebut suatu waktu sadar betapa bermanfaatnya melakukan aktifitas tersebut sedari dahulu.
Ambil contoh ketika seorang ’harus’ bekerja karena merasa terpaksa. Mungkin ada beberapa alasan yang dikedepankan seperti keadaan ekonomi yang memaksanya atau tuntutan lingkungan yang terasa menghakimi seorang pengangguran. Maka dengan terpaksa orang tersebut mencari pekerjaan. Ketika nanti mendapat pekerjaan, akan cukup sulit baginya untuk memberikan seluruh kemampuan yang dimilikinya demi pekerjaan tersebut.
Bekerja dengan hati berbeda dengan bekerja berdasarkan kewajiban. Belajar untuk mencintai apa yang anda lakukan adalah landasan dasar supaya dapat menampilkan seluruh kemampuan anda. Kondisi orang di mana dia memang harus bekerja adalah sesuatu yang tidak dapat dikendalikan, seperti halnya mendapat pekerjaan yang kurang disukainya. Namun yang bisa dikendalikannya adalah menata ulang perasaan dan mind set-nya akan cara menjalankan tugasnya. Ok.., bahwa pekerjaan tersebut memang bukan pekerjaan idamannya saat ini. Tapi dengan keadaannya yang sekarang bisakah ia mengubahnya? Yang bisa dilakukannya adalah menekuni pekerjaannya dengan hati yang ihlas, berusaha untuk bekerja dengan bibir tersenyum dan selalu berusaha untuk mencintai pekerjaannya.
Jika atasan di tempat anda bekerja menginginkan anda bekerja dengan 70% kemampuan anda, berikan 80%, jika pimpinan menginginkan 100% kemampuan anda, berikan 101% atau bahkan 110% kemampuan anda. Sehingga atasan akan merasa sayang untuk menyia-nyiakan anda. Jadilah bintang yang selalu bersinar di manapun anda ditempatkan. Janganlah mudah mengeluh karena keluhan hanya menghambat kemampuan anda. Janganlah mudah merasa bahwa andalah orang yang paling menderita di dunia ini. Cobalah untuk selalu tersenyum ketika kesulitan menghadang anda. Berpikir dengan jernih walaupun dalam keadaan tersulit. Dan berpikir positif bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.
Saya pernah mendengar ada senior saya yang mengatakan ”Jangan pernah menyerah sebelum anda mengerjakan tugas itu dengan berdarah-darah”. Memang terkesan menyeramkan, tapi mental seperti itulah yang diperlukan di dunia yang serba keras ini. Kita harus menjadi tangguh untuk bisa melaluinya. Kita memang sering berada pada situasi lingkungan yang tidak kondusif, namun kita harus mampu dan bisa melaluinya. Semangat selalu!!!
By
Haryo Seto A
Krisis, kapan berakhir?
February 14th, 2009 Tags: mengatasi krisis Posted in Self Development | No Comments »
Amerika tengah mengalami krisis ekonomi saat ini dan imbasnya pun sampai ke kita. Kondisi krisis di Amerika ternyata membawa akibat yang buruk, beberapa perusahaan di Indonesia mulai gulung tikar, dan tidak sedikit karyawan yang sudah dirumahkan. Hari-hari ke depan, hal serupa diberitakan sepertinya akan lebih banyak terjadi.
Beralih ke rekan saya. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan rekan semasa kuliah. Dia mengeluh akhir-akhir ini sering jatuh sakit karena asma. Analisis dokter tidak menemukan abnormalitas fisik apapun. Dokter pun berkesimpulan asmanya disebabkan rekan saya terlalu berat memikirkan masalah. Dugaan dokter tidak salah, rekan saya memang sedang menghadapi masalah karir. Menginjak tahun ke-3 setelah dia lulus kuliah, dia belum mendapatkan pekerjaan. Tiga tahun hidup menganggur menggerogoti fisiknya. Seperti Amerika, dia pun sedang mengalami krisis.
Makna krisis
Krisis terjadi dimanapun, kapanpun, dan menghinggapi siapapun. Keadaan yang berbahaya, parah sekali, keadaan yang genting, suasana kemelut adalah situasi saat krisis terjadi. Kita tentu pernah mengalami dan merasakan situasi seperti itu, sangat tidak enak dan menekan. Ibu kos yang marah-marah karena uang kos yang belum dibayar padahal uang sudah habis dan kiriman belum sampai, ujian esok hari dan kita sama sekali belum punya bahan untuk dipelajari atau bahan sudah ada tapi kita malas belajar sehingga rasanya tidak ada waktu untuk mempelajarinya. Tugas yang sudah deadline, dan belum juga terselesaikan. Situasi-situasi tersebut benar-benar tidak nyaman.
Kenapa krisis terjadi?
Selain karena faktor eksternal, seringkali kondisi krisis disebabkan oleh diri kita sendiri. Salah dalam bertindak atau bersikap mengarahkan kita dalam perangkap krisis. Namun, salah bertindak mungkin masih dapat diatasi dengan mengambil langkah koreksi tapi bagaimana dengan lambannya mengambil sikap? Seperti yang terjadi pada rekan saya, selama 3 tahun dia tidak berani mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalahnya. Lambat mengambil keputusan seringkali menjadi sebab timbulnya krisis.
Kecanduan urgensi
Kenapa sih lambat bertindak? Kebiasaan lambat mengambil keputusan muncul dari kebiasaan kecanduan urgensi. Menunda-menunda apa yang bisa dilakukan sekarang dan berusaha untuk mengerjakan di akhir waktu akan mengarahkan kecanduan urgensi. ”Ah, ntar aja”, ”Besok aja deh”, ”Kan masih lama?”, inilah yang biasa kita katakan. Di saat waktu sudah mepet, kita mulai sadar untuk bertindak, dan akhirnya kita pun setiap kali tidak pernah lepas dari situasi krisis. Di sini penghargaan terhadap waktu masihlah kurang.
Rasa takut
Rasa takut juga bisa membuat kita lambat dalam mengambil keputusan atau tindakan. Nyaman pada kondisi sekarang seringkali dipilih daripada harus membuat perubahan. Perasaan tidak nyaman dengan perubahan menyebabkan orang selalu terjerembab ke dalam krisis yang sama. Padahal dengan berubah kita menjadi berkembang dan semakin matang. Maka tidak heran bila kondisi dan masalah yang kita hadapi terus berulang karena kita tidak mau berubah. Persis seperti lingkaran setan. Kita tentu pernah bertemu dengan teman yang kalo ketemu pasti berkeluh kesah tentang hal sama bukan?
Alertness
Tentunya bagi yang pernah nonton film Titanic ingat episode saat Kapal Titanic tenggelam. Detik-detik sebelum kapal menghantam batu es, kapten kapal sudah diberitahu awaknya adanya benda aneh jauh di depan, tapi karena lamban mengambil tindakan tabrakan dengan gunung es pun tak terhindarkan. Tenggelamlah Kapal Titanic.
Belajar dari karamnya Kapal Titanic, ketidakwaspadaan dan juga kurangnya perhatian terhadap situasi menyebabkan kita lengah. Padahal, mengenali situasi dengan baik dan meningkatkan kewaspadaan lingkungan akan menghindarkan kita dari masalah penyebab krisis.
Sense of crisis dan Sense of urgency
Masalah tidak akan menjadi sebuah krisis bila kita mempunyai sense of crisis dan sense of urgency yang baik, yaitu kemampuan untuk mendeteksi adanya krisis serta mengambil tindakan menyegerakan. Seperti halnya kita tahu ban kita bocor sebelum benar-benar ban kempes dan motor kita tidak bisa jalan. Bila kita sadar, mungkin kita masih sempat untuk mencari tukang tambal ban tanpa harus capek mendorong motor.
Sebenarnya kita bisa terhindar dari krisis bila kita siap dengan tindakan pencegahan. Istilahnya sedia payung sebelum hujan. Tanggap terhadap situasi, dan mempersiapkan diri terhadap segala sesuatu adalah upaya ampuh mencegah krisis. Kita bisa belajar pada hukum pertanian. Bila kita memimpikan memanen padi: kita mesti mulai dengan membajak, kemudian memupuk, menebar benih, memelihara dan merawat, dan pada akhirnya saatnyalah untuk menuai. Bisakah kita mengharapkan padi tumbuh dalam sekejap malam? Bisakah kita mengakali hukum pertanian? Jawabannya jelas tidak.
Cara Mengurangi Stres?
February 7th, 2009 Tags: Stres Posted in Consultancy, Self Development | No Comments »
Stres adalah sebuah keadaan yang seringkali kita alami saat menjalani kehidupan ini. Beban hidup yang semakin susah, pengeluaran yang semakin besar tapi sulit untuk mencari pemasukan tambahan, kerjaan di kantor yang semakin menumpuk dan belum juga terselesaikan, sampai bos yang menyebalkan pun dapat membuat kita stres.
Kondisi ini jelaslah sangat tidak mengenakkan bagi kita. Tekanan dan pikiran yang terganggu akibat stres menyebabkan kinerja kita menjadi ikut terganggu. Kita menjadi sulit berkonsentrasi, emosi seringkali terasa tidak enak, mudah menjadi cemas dan putus asa, bahkan bisa berdampak pada kesehatan. Kita menjadi sering migraine, sakit kepala, maag, sesak nafas (asma kambuh), dan hipertensi.
Untuk mengembalikan performa kita pada tingkat awal sebelumnya kita perlu mengetahui cara mengurangi atau menghilangkan stres. Hal ini penting agar kita bisa menyelesaikan segala kewajiban kita seperti pekerjaan, kuliah, atau kehidupan sehari-hari dengan kondisi yang sudah segar kembali. Namun bagaimana langkah konkrit untuk dapat mengurangi stres?
Dalam materi kuliah Kesehatan Mental di Fakultas Psikologi, ada cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres yang kita alami, yaitu:
Berolahraga secara teratur
Seperti kita ketahui, olahraga dapat membuat badan menjadi lebih segar dan bersemangat kembali. Tidak perlu harus dengan olah raga yang memakan waktu lama ataupun berat. Jogging, jalan kaki yang cukup, memilih menggunakan tangga daripada lift saat di kantor atau kampus, bersepeda ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh bisa dilakukan. Aktivitas tersebut bila dilakukan secara rutin akan membawa dampak yang baik bagi tubuh dan emosi atau psikis kita.
Mengendorkan diri
Ketika kita sedang mengerjakan sesuatu dan kita merasa sangat capek dan pusing, cobalah untuk berhenti sejenak. Lakukan penguluran tangan dan kaki sambil mengambil nafas yang panjang seperti halnya kalau sedang pemanasan untuk olahraga. Hal ini akan membuat tubuh dan pikiran kita menjadi fresh kembali.
Menangis
Kalau memang kita sedang merasa sangat tertekan atau stressful, janganlah selalu dipendam. Jika ingin menangis, menangislah. Menangis sewajarnya adalah sangat sehat. Kita mengeluarkan segala rasa sesak perasaan kita dengan menangis. Setelah menangis, kita akan lebih tenang sehingga dapat mencoba memulai menyelesaikan semuanya lagi dengan baik.
Mencari bantuan
Mencari bantuan tidak menandakan kita lemah dan kalah. Jika kita benar-benar menghadapi situasi yang sulit dan kita merasa tidak bisa meng-handle-nya sendiri, cobalah cari orang lain yang sekiranya bisa membantu. Karena memang, tidak selamanya kita bisa melakukan segala hal dengan sendirian.
Tidak menjadi terlalu Perfeksionis
Sifat perfeksionis sangat rentan terhadap datangnya stres. Ambisi atau pikiran untuk membuat segala sesuatunya sempurna akan membuat kita lelah sendiri. Boleh saja kita menetapkan yang terbaik untuk segala sesuatu yang kita lakukan. Kita harus tetap realistis dan tidak mencari kesempurnaan di setiap kerja yang kita hasilkan karena sedikit banyak segala sesuatu pasti ada kekurangan dan tidak mungkin sempurna.
Menghadapi masalah dengan sikap positif
Menghadapi masalah dengan sikap positif bukan berarti membohongi diri sendiri bahwa tidak ada masalah atau berpura-pura masalah kita adalah masalah yang sangat mudah. Namun, bersikap positif adalah menjaga pikiran kita tidak terlarut dalam pikiran yang negatif, selalu melihat masalah dengan kepala dingin, dan berusaha mencari harapan untuk menemukan solusi. Semua orang pasti memiliki masalah, baik besar ataupun kecil. Hanya cara dan sikap kita menghadapi masalah tersebut yang membedakan hasil akhir dari setiap masalah itu.
Tidak mudah menerima kesanggupan dan kurangi beban yang ada
Mudah untuk menerima kesanggupan yang sebenarnya berat bagi kita hanya akan menjadi sebuah beban di pundak kita. Cobalah untuk memilih kesanggupan yang masih bisa diterima dan jangan terlalu mudah meng-iya-kan. Kurangi beban di pundak kita saat sudah terasa sangat berat. Lepaskan satu persatu mulai dari prioritas paling rendah. Pundak setiap orang tetap ada batas maksimalnya, jangan kelebihan beban ya..
Mengelola waktu
Manajemen waktu yang baik wajib kita miliki. Mengelola waktu dan menyesuaikan dengan apa yang harus kita kerjakan akan mengurangi kemungkinan gagal terlaksananya rencana atau timbulnya masalah. Cobalah belajar dan biasakan untuk mengelola waktu dengan baik.
Menikmati keindahan alam
Cobalah untuk mencari dan menikmati keindahan alam. Kegiatan ini jelas akan mengurangi stres karena perasaan kita akan menjadi lebih tenang, damai, dan aman. Kita seakan memiliki tambahan tenaga yang baru untuk menghadai hal-hal yang menekan atau membuat stres. Jika tidak memiliki waktu karena belum bisa cuti atau libur, cobalah bangun pagi dan nikmati udara pagi sambil melihat pemandangan luar. Melihat matahari yang menyinari kita pada pagi hari dapat menjadi alternatifnya.
Menyediakan waktu untuk beristirahat dan bermain
Walaupun tidak harus selalu banyak dan lama, menyediakan waktu yang cukup untuk beristirahat dan bermain adalah hal yang wajib kita lakukan. Tubuh dan pikiran kita pasti membutuhkan waktu break agar stres berkurang.
Mengembangkan hobi
Hobi adalah kegiatan yang sangat kita sukai. Saat kita sedang melakukan hobi kita, pasti perasaan menyenangkan yang akan muncul. Guna mengantisipasi, mengurangi atau menghilangkan stres kita, cobalah kembangkan hobi masing masing. Untuk yang suka dengan tanaman, coba untuk pelihara dan kembangkan. Bagi yang suka melukis, saat kita stres, bisa kita rehat sejenak dan melukis. Bagi yang hobi menyanyi, cobalah bernyanyi dan keluarkan emosi ketika sedang menghadapi keadaan yang stressful. Perlahan rasa stres yang ada bisa berkurang sehingga kita mampu bekerja dengan lebih baik lagi.
Semua cara di atas tidak hanya sebuah alternatif bagaimana kita dapat mengurangi stres, namun juga dapat menjadi sebuah antisipator agar kita tidak sampai mengalami stres yang berlebihan. Biasakan mengerjakan hal-hal agar benar-benar bisa merasakan manfaatnya.
By
Ino
(Bahan diambil dri materi kuliah Kesehatan Mental)
Kungfu Panda
January 23rd, 2009 Posted in Self Development | No Comments »
Bulan lalu saya nonton Film Kungfu Panda dan saya terkesan. Tampilan grafis yang bagus, dialog khas Amerika, nilai-nilai yang disampaikan film karya sutradara Mark Osborne dan John Stevenson begitu luar biasa meskipun film ini dikategorikan film humor. Tidak heran bila kemudian Kungfu Panda masuk dalam kategori film Box Office di pertengahan 2008.
Film Kungfu Panda bercerita tentang Po seorang panda anak pembuat mie terkenal yang kemudian terpilih dan berhasil menjadi ’Dragon Warrior’ penyelamat negerinya. Po yang bermimpi menjadi seorang master kungfu, secara mengejutkan dipilih oleh Oogway, seorang pemimpin Negeri Kedamaian untuk menyelamatkan negeri tersebut dari ancaman (more...)
Menjaga Semangat di Saat Gagal
January 21st, 2009 Posted in Self Development | No Comments »

Dalam sebuah kompetisi hanya ada dua pilihan yaitu: kalah atau menang, berhasil atau gagal. Pilihan-pilihan itu terjadi juga dalam kehidupan. Dari hasil pemikiran saya tersebut, sering terdengar protes dari rekan-rekan sepenanggungan, “Kalo gitu kamu nggak menghargai proses dong?!!!!” Eits ntar dulu….jangan memaknai berhasil dan gagal itu hanya dari kulit luarnya saja. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya dan dari perspektif apa serta bagaimana kita memaknainya. Yuk kita telaah bersama.
Saya memiliki rekan yang sudah berkeluarga dan memiliki putri yang lucu. Sedari kecil anak tersebut telah disetting menjadi juara, yang nomor satu, paling pintar dan (more...)
|