|
Archive for the ‘Career Adventure’ Category
LOWONGAN PEKERJAAN (PT. INSPIRA INOVASI INDONESIA)
August 26th, 2009 Tags: lowongan pekerjaan Posted in Career Adventure | No Comments »
LOWONGAN PEKERJAAN
Kami PT.Inspira Inovasi Indonesia perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Informasi, saat ini salah satu divisi perusahaan kami, Gama Education & Competency Center sedang membutuhkan segera SDM, dengan posisi dan kualifikasi sebagai berikut:
Staff Account Executive (Code: AE)
Pria atau Wanita
-Minimal D-III semua jurusan (tidak sedang kuliah)
-Memiliki jaringan yang luas di bidang Swasta dan Pemerintahan
-Memiliki pengalaman/pernah terlibat dalam pengelolaan event
-Memiliki kendaraan sendiri (SIM A/C)
-Memiliki kemampuan komunikasi ditunjang dengan kemampuan IT yang baik
-Creative & Inovatif
-Mampu bekerja di bawah tekanan
-Aktif dan proaktif dalam bekerja
-Bertanggung jawab
-Memiliki keinginan untuk maju dan berkembang
Bila anda berminat dan memenuhi kriteria di atas, segera kirimkan :
1. Surat lamaran
2. Curiculum Vitae
3. Foto kopi ijazah & transkrip nilai, beserta sertifikat pendukung lainnya
4. Foto berwarna terbaru ukuran 4x6
5. Foto kopi identitas diri (KTP, SIM C/A)
6. Portofolio pekerjaan
Tulis Kode di kiri atas amplop
Lamaran dikirim paling lambat tanggal : 28 Agustus 2009 (cap pos)
Ke alamat berikut :
HRD PT. Inspira Inovasi Indonesia.
Jl.Cik Di Tiro No.34, Yogyakarta 55223
Telp. (0247) 514430, Fax. (0274) 566158
Motivasi : Kunci Sukses Seorang Motivator
April 12th, 2009 Tags: tips motivasi Posted in Career Adventure | 1 Comment »

Mario Teguh, salah satu trainer motivasi yang luar biasa.
Kita semua tentu saja sudah tidak asing lagi mendengar kata training. Eits, tapi jangan sampai salah sangka dulu. Training di sini bukan salah satu jenis celana yang dipakai untuk olahraga, tetapi training di sini adalah sebuah pelatihan. Pelatihan dalam bentuk apa sih? Banyak macamnya. Pelatihan tersebut dapat terbagi menjadi beberapa macam tergantung konteks dan penerapannya.
Sudah tentu training sangat dibutuhkan dalam konteks perusahaan misalnya. Karena pelatihan-pelatihan tersebut dibutuhkan guna memotivasi agar para karyawan dapat lebih giat dalam bekerja. Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai dunia training sebaiknya kita pahami terlebih dahulu mengenai apa sih yang disebut sebagai motivasi dan mengapa setiap individu membutuhkan motivasi dalam kehidupannya?
Motivasi merupakan dorongan untuk mencapai tujuan tertentu. Dorongan itu bisa saja berbentuk antusiasme, harapan dan semangat. Semua yang kita lakukan setiap hari senantiasa dibayangi oleh adanya motivasi. Misalnya, seorang karyawan yang bekerja tentu saja memiliki motivasi dalam bekerja, menginginkan kenaikan pangkat dan berusaha meningkatkan kualitas dirinya dalam perusahaan. Begitu pula seorang atlet memiliki motivasi untuk bertanding dan berusaha mencetak kemenangan. Juga seorang pelajar dengan motivasi belajar, dan lain sebagainya. Semua orang membutuhkan motivasi dalam hidupnya, setiap hari, setiap waktu, setiap menit, bahkan setiap hembusan nafas kita, kita membutuhkan motivasi. Dalam bentuk yang sangat kecil saja, ketika kita bangun tidur kita selalu berdoa bahwa semoga hari ini akan menjadi hari yang indah, menjadi hari yang lebih baik dibanding kemarin. Dan tanpa kita sadari hari ini kita benar-benar menjalani hari dengan indah dan lebih dari hari yang lalu. Dapat dikatakan bahwa motivasi adalah impian terdalam kita yang dapat membuat kita menjadi lebih bersemangat dalam mencapai impian tersebut.
Pada dasarnya setiap manusia memiliki otak yang terus bekerja dan selalu berpikir. Kesibukan kita yang tiada henti merupakan suatu hal pemicu ketidakdekatan kita terhadap diri kita sendiri. Jarang kita bertanya, kita mau apa? Memotivasi atau men-training diri kita sendiri adalah hal yang sangat sulit kita lakukan jika kita tidak mengenal baik siapa diri kita. Oleh karenanya, begitu banyak nama-nama bermunculan di tengah masyarakat dan mereka menyebut diri mereka sebagai motivator. Menjadi motivator bukan suatu hal yang mudah namun bisa dipelajari. Teori Maslow merupakan teori populer yang menggambarkan hierarki kebutuhan manusia yang berbeda-beda. Dengan mengetahui jenjang kebutuhan seseorang, motivator merumuskan bentuk-bentuk motivasi yang sesuai dan lebih terfokus kepada tingkatan kebutuhan dari seseorang. Di jenjang paling bawah, motivasi berbentuk materi seperti: rumah, makanan, uang, dan sebagainya. Di jenjang berikutnya, motivasi tidak lagi berupa materi tetapi berupa perasaan, penghargaan dan kesempatan berkarya. Oleh karena itu, teori ini menjelaskan bahwa materi merupakan faktor mendasar yang mutlak ada sebelum munculnya kebutuhan-kebutuhan yang lain yang sifatnya non-materi. Dengan demikian, motivasi dapat berbentuk dua hal, yaitu materi dan non-materi.
Dalam hal ini untuk menjadi motivator setidaknya ada hal-hal yang perlu diketahui terlebih dahulu. Menurut McGinnis ada 12 kunci prinsip yang merupakan rahasia pemotivasian yang perlu dipahami sebagai seorang motivator :
Harapkanlah yang terbaik dari orang yang anda pimpin.
Sebagai seorang motivator, anda harus membantu orang-orang untuk mencapai keberhasilan sehingga mereka dapat memberikan yang terbaik kepada anda. Sebagai manajer misalnya, anda senantiasa mendorong staf anda untuk menambah pengetahuan dan keterampilan supaya mereka dapat memberikan performa yang terbaik di pekerjaan mereka, dengan demikian tujuan bersama bisa tercapai. Selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, anda juga selalu mengingatkan bahwa mereka memiliki potensi tersembunyi dan keinginan untuk melihat mereka berhasil.
Pelajarilah secara mendalam apa yang dibutuhkan orang.
Menjadi netral dan memandang kehidupan dari segala sisi. Tidak semua orang memiliki cara pandang dan cara hidup yang sama seperti ita. Latar belakang manusia pun berbeda-beda. Maka untuk menjadi motivator Anda harus bisa memhami setiap kebutuhan orang yang ingin anda beri motivasi.
Menetapkan standar keunggulan yang tinggi.
Jangan takut untuk bermimpi dan gapailah cita-cita setinggi langit. Jika kita memiliki cita-cita jangan tanggung-tanggung dengan cita-cita kita tersebut. Namanya juga cita-cita. Kita harus selalu menanamkan dalam benak kita hal-hal yang paling baim yang bisa dibayangkan. Terus dorong lah diri anda untuk dapat mencapai cita-cita anda itu, bahkan cita-cita yang anda anggap mustahil sekalipun.
Ciptakan suasana di mana kegagalan bukan akhir dari segalanya.
Semua orang yang sukses pasti adalah orang yang pernah gagal. Ada pepatah bilang ketika kita berjalan dan kaki kita terantuk batu, maka jika kita terantuk batu lagi rasa sakitnya tidak akan sesakit ketika terantuk batu untuk pertama kalinya. Dan jika kita sering mendapatkan cobaan seperti itu kita sebisa mungkin akan menghindarinya karena telah memiliki pengalaman sebelumnya.
Jika anda mengharapkan seseorang untuk melakukan apa yang anda inginkan, maka semangatilah rencananya yang mengarah ke tujuan itu.
Jika seorang pemimpin menginginkan karyawannya dapat melakukan pekerjaan yang ia harapkan maka semangati lah dan terus beri motivasi kepada karyawan anda tersebut hingga ia dapat menjadi seperti yang anda harapkan.
Pakailah keteladanan guna merangsang keberhasilan.
Kita harus memberi contoh atau keteladanan kepada seseorang sehingga orang tersebut dapat lebih termotivasi dan meniru keteladanan kita. Ibaratnya ketika kita menginginkan yang terbaik dari seseorang maka kita harus jadi yang terbaik terlebih dahulu.
Kenalilah dan berikan pujian atas prestasi.
Menurut Teori behaviorisme, dengan memberikan reward atau hadiah kepada seseorang maka hal tersebut akan merangsang seseorang untuk melakukan hal tersebut lebih baik lagi agar mendapatkan pujian dan hadiah. Seperti kenaikan pangkat untuk karyawan dan hadiah kenaikan kelas untuk seorang anak ketika ia mendapatkan nilai kelulusan yang baik dengan memberikan mainan atau sesuatu yang ia sukai.
Pergunakanlah perpaduan antara sanksi positif dan sanksi negatif.
Sanksi positif adalah pujian, penghargaan, kasih dan lain-lain sedangkan sanksi negatif adalah teguran, hukuman, amarah, dan lain-lain. Kedua sanksi ini adalah dua hal yang saling bertolak belakang tetapi sama-sama merupakan cara untuk memotivasi orang. Seorang motivator harus jeli melihat kapan menggunakan sanksi negatif atau positif untuk memotivasi orang. Dalam situasi tertentu, motivator bisa saja bertindak keras, tetapi selalu bertindak adil sehingga seseorang bisa memahami nilai-nilai yang ingin ditanamkan dan tidak asal melihat hukumannya saja. Secara keseluruhan, Mc Ginnis menganjurkan lebih banyak pujian dibandingkan hukuman.
Sesekali ciptakan hasrat untuk bersaing.
Persaingan tidak terlalu efektif jika terus-menerus dilakukan karena bisa menciptakan perasaan dimanipulasi, saling menjegal yang menciptakan kompetisi yang tidak sehat. Tetapi lakukan lah persaingan yang sehat yang membuat orang semakin terpacu dan ingin berusaha menjadi lebih baik dari yang telah dikerjakannya saat ini. Jadi, gunakanlah persaingan untuk memberikan inspirasi dan memacu semangat, bukan hanya media untuk melemparkan kritik.
Memupuk sikap kerjasama.
Kerjasama di sini berarti melakukan sesuatu secara bersama-sama. Kebersamaan membangkitkan motivasi yang luar biasa karena semakin banyak yang ”menemani” maka semakin kuat tekad yang timbul.
Upayakan agar di dalam kelompok ada peluang untuk melawan.
Sewaktu memimpin sebuah kelompok yang memiliki beberapa orang anggota dengan sifat melawan, seorang pemimpin sekaligus motivator tidak selalu mengganggap kehadiran seorang pemberontak akan mematikan niat kita sebagai motivator mereka, tetapi justru menganggap orang tersebut dapat memberikan masukan dan dapat menjadi bagian instrospeksi bagi motivator sendiri.
Usahakanlah agar motivasi anda tetap tinggi.
Beberapa cara seorang motivator dapat memotivasi dirinya sendiri adalah: bergaullah dengan orang-orang yang berhasil dan berpikiran positif, awasi gagasan- gagasan yang masuk, manfaatkan sumber informasi, tingkatkanlah kemampuan dan keterampilan Anda dengan mengikuti kursus/ seminar, tingkatkan spiritualitas anda.
“Everybody can be a great trainer for them self actually”. Setiap orang pasti bisa menjadi trainer yang baik, minimal untuk dirinya sendiri. Setelah ia dapat melakukan untuk dirinya sendiri, barulah ia dapat berbagi pengalaman keberhasilan dalam men-trainer dirinya tersebut kepada orang lain. “So if you want to success to be a great trainer, you must be success to be a superlative great trainer for your self!”
Diambil dari berbagai sumber.
By
Tisa
Apa Itu Training?
April 12th, 2009 Tags: training Posted in Career Adventure | Comments Off
Secara ilmiah training mirip dengan terapi behavioral kognitif, dimana perubahan perilaku diawali dengan perubahan pola pikir (kognitif). Hanya saja, perbedaan mendasar antara training dan terapi tersebut adalah siapa yang berhak melakukanya. Dalam dunia training, siapapun bisa jadi trainer (sebutan bagi pelatih training_red) asalkan memiliki kemampuan dan kemauan dalam materi training yang akan dibawakan. Sedangkan pada terapi behavioral kognitif, haruslah orang dari kalangan bidang ilmu tertentu (psikologi) yang boleh melakukannya.
Suatu kegiatan dapat disebut training jika :
- Ada peserta, baik seorang maupun lebih.
- Terdapat seorang sebagai trainer/instruktur.
- Dilakukan di dalam dan atau di luar ruangan.
- Memiliki tujuan memberikan pemahaman, penguatan, pengetahuan dan keterampilan.
- Dalam proses training disertai dengan latihan praktis sesuai dengan jenis maupun prosedur.
- Memiliki hasil berupa perubahan pola pikir atau perilaku peserta ke arah yang diinginkan (sesuai dengan program).
Mengapa training tak menghasilkan perubahan?
Terdapat komentar dari beberapa peserta training yang diantaranya mengeluhkan tidak adanya perubahan yang berarti setelah dirinya ikut dalam suatu program training. padahal, training diadakan guna memberikan motivasi baru dan nantinya diharapkan ada perubahan kearah positif seperti perubahaan pola pikir maupun perilaku. Hal tersebut biasanya terjadi antara lain jika :
- Trainer kurang percaya diri dan kurang menguasai materi. Hal tersebut akan berimbas pada kepercayaan peserta dan berakibat pada tidak tersampaikannya manfaat training tersebut.
- Lokasi training tidak kondusif. Hal ini biasanya jarang ditemui, namun mungkin pernah sesekali terjadi. Keadaan yang bising dan distraktor lain juga dapat mempengaruhi keberhasilan suatu training. Berdasar pengalaman, penulis pernah mengadakan pendidikan dan diklat (pelatihan) di suatu aula sebuah hotel yang ternyata ketika training dilakukan, suara-suara bising dari luar terdengar jelas sehingga pembicara dipaksa untuk harus bersaing dengan suara-suara dari luar sana. Hasilnya? Banyak peserta yang mengeluhkan hal tersebut.
- Konsep training tidak sesuai dengan kriteria trainee (peserta_red). Dalam sebuah pelatihan, kesesuaian antara konsep training dan kriteria peserta mutlak dipikirkan. Hal tersebut diperlukan guna pemilihan media penghantar agar materi yang disampaikan tepat sasaran. Bayangkan saja jika training yang pesertanya adalah orang dewasa dan penyampaian training banyak menggunakan kegiatan fisik dengan media permainan? Tentu hasilnya tidak akan seoptimal ketika dilakukan dalam forum diskusi dengan gerakan-gerakan yang secukupnya. Dalam hal ini, guna kesuksesan kegiatan, panitia training hendaknya dapat memberikan batas kriteria peserta training tersebut. Sebagai contoh pada training ESQ. Training ESQ merupakan pelatihan kepemimpinan yang berbasis spiritual. Agar penyampaian materi dapat optimal maka dalam training ESQ dibedakan menjadi beberapa kelompok yakni, kids, teens, mahasiswa, regular(professional dan eksekutif). Pembedaan kelompok usia di sini dimaksudkan agar trainer dapat memilih dan memasukan materi dengan ‘cara’ sesuai dengan karakteristik umum trainee-nya.
- Terdapat jarak antara trainer dengan trainee yang tidak dihilangakan. Demi suksesnya suatu training, seorang trainer harus dapat membaur dengan trainee. Solusinya dengan melakukan ice breaking. Ice breaking dapat dilakukan dengan memberikan permainan-permainan ringan untuk mencairkan suasana kepada trainee di awal kegiatan. Bisa juga dengan berdialog interaktif pada sesi pembuka. Hal tersebut dapat menghilangkan atau setidaknya menipiskan jarak antara trainer dengan trainee-nya. Setelah jarak tersebut hilang, maka materi akan lebih mudah tersampaikan. Namun tunggu dulu! penggunaan ice breaking yang tidak sesuai justru dapat menambah jarak atau bahkan mengurangi tingkat kepercayaan trainee terhadap trainer-nya. Untuk itu, pemilihan permainan maupun metode pendekatan pada saat ice breaking mutlak disesuaikan dengan keadaan trainee. Tidak percaya? Silahkan mencoba!
By
Nanda
Bagi Ide : Tes Psikologi Bagi Job Seeker
April 5th, 2009 Tags: Tips sukses tes psikologi Posted in Career Adventure | No Comments »
Setiap orang tua menyekolahkan anaknya dengan harapan kelak dewasa si anak akan menjadi “orang” yang berpendidikan dan tentusaja dapat meningkatkan derajat keluarga dengan title pendidikan yang anak sandang. Titel pekerjaan yang didapat kemudian akan dipertaruhkan dalam memperebutkan kursi derajat yang lebih tinggi lagi, yaitu pekerjaan. Tingkat pendidikan yang tinggi akan memberikan kesempatan bagi orang yang menyandangnya untuk mencari dan mendapat bidang pekerjaan yang diinginkan. Begitukah? Pada kenyataanya memang begitu. Gelar sarjana atau titel-titel diatasnya memang dapat memberikan tawaran pekerjaan yang menjanjikan. Banyak lowongan pekerjaan yang mewajibkan calon pegawainya memiliki titel sarjana S1 untuk dapat diterima disebuah perusahaan maupun kantoran. Namun tunggu dulu… Untuk masuk dan dapat diterima menjadi seorang karyawan disuatu perusahaan, seorang bertitel sarjana haruslah menjalani rangkaian tes masuk perusahaan dan tes psikologi (psikotes) dapat menjadi halangan terbesar bagi calon karyawan. Dalam psikotes digunakanlah sistem gugur dimana terdapat standar tertentu dalam setiap bidang pekerjaan yang diinginkan perusahaan, sehingga tak heran jika tes psikologi yang diberikan terkadang tidak sama antar bidang pekerjaan yang ditawarkan. Dan kalaupun memang sama, maka dapat dipastikan standar tesnya berbeda antar bidang yang satu dengan yang lain. Saya yakin semua pelamar pasti ingin lolos dan terpilih menjadi karyawan sehingga tak jarang membeli bahkan dengan sengaja mencuri start saat pelaksanaan tes psikologi tersebut dengan harapan mendapat keuntungan darinya. Apakah memang demikian? Saya rasa tidak... Ingin tahu mengapa? 1. Tes psikologi (psikotes) bukan mengukur tingkat pengetahuan teoritis anda! Mungkin anda beranggapan bahwa psikotes = tes tertulis pada umumnya. Jika iya, segeralah rubah pola pikir anda karena psikotes adalah tes yang digunakan untuk mengetahui keadaan psikologis (jiwa) anda. Jadi tidak menutup kemungkinan orang yang pintar secara teoritis tidak lolos pada tahap ini, begitu sebaliknya. 2. ingat!!!tes digunakan untuk menentukan calon pelamar terbaik yang memenuhi standar dan kriteria suatu perusahaan jadi jangan berkecil hati apabila pada suatu kesempatan anda belum dapat bergabung dalam suatu perusahaan karena gagal tes. Secara positif tes psikologis membantu anda dan perusahaan untuk mencocokan. Mungkin seperti semacam ”biro jodoh” dimana bila tidak cocok ya cari yang lain. Bagi anda yang tidak lolos seleksi karyawan karena gagal dalam mengerjakan tes psikologis, janganlah berkecil hati lalu men-just bahwa anda orang gagal. Orang yang tidak lolos = orang yang tidak memenuhi kriteria yang diinginkan oleh perusahaan. Hal yang disayangkan adalah ketika anda memanipulasi keadaan diri anda dengan mempelajari buku-buku tes psikologis yang beredar luas dipasaran. Mungkin anda lolos dengan skor memenuhi kriteria, namun sadarkah anda bahwa anda sudah menjerumuskan diri sendiri. Standar tes psikologis merupakan standar yang digunakan untuk mengukur perilaku keseharian anda. Jika anda menjawab yang bukan kepribadian anda sebenarnya, bukan tak mungkin nantinya jika anda di terima justru akan memberatkan diri anda sendiri. Ingat!!! Kebohongan Publik berakibat buruk bagi diri sendiri. Point selanjutnya merupakan kiat-kiat sederhana yang dapat dilakukan oleh job seeker saat akan maupun sedang menghadapi psikotes:
1. Persiapkan keadaan fisik dan mental baik2 untuk menghadapi hari-H psikotes perupakan alat ukur untuk menngetahui kepribadian dan kemampuan anda secara menyeluruh. Kelelahan fisik dan keadaan mental yang kurang baik seperti stress saat mengerjakan tes akan mempengaruhi kualitas dan waktu Anda saat pengerjaan tes tersebut. Untuk sejenak, buang jauh-jauh masalah yang sedang Anda hadapi saat mengerjakannya.
2. Dengarkan baik-baik saat dilakukan instruksi Banyak diantara para pelamar mungkin melamar suatu pekerjaan yang bukan kesekalinya. Mungkin kemarin anda sudah melamar pekerjaan diperusahaan A, lalu B, dan lusa akan melamar di perusahaan C karena anda belum dinyatakan diterima di perusahaan manapun. Hal itu sangat mungkin menyebabkan anda jadi seorang yang familiar terhadap suatu alat tes, berikut instruksi cara pengisianya. Jangan berbangga hati terlebih dahulu. Pernah saya temui (ketika menjadi pengawas tes) ada seorang yang sepertinya familiar terhadap suatu alat tes sehingga dengan lancar dapat menjelaskan bagaimana cara menjawab pada rekan disebelahnya (dan tentusaja kami peringatkan segera). Ingat! anda telah berhasil membuat rekan dan anda sendiri manjadi sasaran mata para pengawas dan tentusaja akan diawasi lebih ketat. Tolong pahami kemungkinan bisa saja anda salah menjelaskan dan memiliki perbedaan persepsi dengan instruktur saat itu dan mungkin sebelumnya dan hasilnya : anda gagal kembali... Instruksi diberikan untuk meminimalisir kesalahan yang akan anda perbuat dalam pengisian sehingga saat tes dilakukan kemampuan maksimal Anda dapat terlihat (bayangkan jika sebenarnya Anda memiliki kemampuan yang diinginkan oleh perusahaan namun gagal karena kekurangcermatan dalam mendengarkan instruksi). Sungguh sayang...
3. Jangan tegang saat pengawas mengingatkan ada kesalahan yang anda perbuat dan segera perbaikilah! Hampir seluruh peserta mengalami ”hilang konsentrasi” saat pengawas memberitahu bahwa ada kesalahan yang Anda lakukan dalam suatu pengerjaan tes psikologi. Banyak juga yang dengan segera menutupi lembar jawabnya ketika pengawas berkeliling untuk mencek apakah yang Anda lakukan sudah benar. Maksud pengawas disini sebenarnya baik,”Kami ingin agar Anda dapat mengerjakan tes tersebut dengan benar bukan untuk menakut-nakuti Anda.” Jadi, ketika ada kesalahan yang secara tak sadar Anda perbuat dan pengawas memberitahu Anda, jangan panik! Segeralah perbaiki cara menjawab anda sesuai instruksi dan lakukan untuk butir soal yang seterusnya.
4. Bertanyalah jika memang belum paham setiap selesai menjelaskan tata cara tes, instruktur biasanya memberi kesempatan pada peserta untuk bertanya jika masih belum paham maksud tes tersebut. Dan pada sesi ini kebanyakan para peserta enggan untuk mengacungkan jari untuk menanyakan apa yang dia tidak paham. Sangat disayangkan tatkala ”malu” bertanya tersebut Anda bawa pada saat penentuan nasib Anda kedepan (seperti saat diadakan psikotes). Punya malu itu memang tidak salah, namun pergunakanlah rasa malu tersebut pada momen yang tepat. Bukan pada saat menentukan nasib Anda. Bayangkan, sebenarnya Anda memiliki potensi yang sesuai dengan kriteria yang dikendaki perusahaan, namun Anda gagal psikotes lantaran Anda salah mengisi karena tidak paham apa yang dimaksud dan ’malu’ meminta penjelasan lebih lanjut saat diberi peluang. Sungguh sayang bukan?
5. Berdoa Mungkin terdengar klise dan umum. Namun sungguh, dengan berdoa minimal Anda akan menjadi tenang dan dapat berkonsentrasi mengerjakan tes tersebut. Ketenangan dan konsentrasi mutlak diperlukan saat mengerjakan tes apapun. Dan tidak ada ruginya jika Anda memulai sesuatu dengan berdoa. So...Berdoalah. Sekiranya itu saja sumbang saran yang dapat Saya berikan kepada Anda. Saya yakin setiap orang memiliki kelebihan masing-masing dan kegagalan disuatu waktu bukan berarti bahwa Anda adalah orang yang ”gagal“. Berpikir positiflah... Dan persiapkan diri Anda untuk menghadapi suatu kegagalan. Orang yang siap gagal = orang yang siap sukses. Semangat!!!
By
Nanda
Cepat Dapat Kerja? Magang Alternatif Solusinya!
February 25th, 2009 Tags: tips sukses Posted in Career Adventure | 2 Comments »
Ingin tahu impian yang cukup sering tertancap dibenak para “fresh graduate”? Secepatnya diterima bekerja di sebuah perusahaan. Bekerja dan mendapatkan uang sendiri tanpa harus bergantung pada orangtua. Karena begitu lulus biasanya aliran dana untuk kebutuhan sehari-hari menjadi tersendat atau bahkan macet sama sekali.
Bekerja di perusahaan kecil, menengah atau besar juga menjadi pertimbangan tersendiri, biasanya akan berkaitan dengan rasa percaya diri dari individu. Banyak juga yang langsung mencanangkan ingin bekerja di perusahaan besar. Terutama bagi mereka yang lulus dari perguruan tinggi yang memiliki reputasi cukup baik. “Ya saya kan lulusan dari perguruan tinggi ternama, kalo bisa sih bekerja di perusahaan yang lumayanlah”.
Setidaknya cukup sering saya dengar kalimat ini. Impian yang terbentuk karena mereka menilai dengan predikat lulusan dari perguruan ternama dapat mengangkat nilai jualnya di perusahaan. Anggapan yang tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Sejujurnya, selama proses rekrutmen dan seleksi yang saya lakukan jarang sekali ada permintaan dari perusahaan tentang harus dari universitas ‘ini’ atau universitas ‘itu’. Karena semua tetap tergantung pada seberapa tepat potensi keseluruhan dari seorang individu (karakter, skill, attittude, PENGALAMAN, kemampuan teknis dll.) dengan pekerjaan yang nantinya akan ditempatinya. Jadi banyak faktor yang menentukan pengambilan keputusan untuk menerima calon karyawan baru di sebuah perusahaan.
Walaupun ada beberapa permintaan yang cukup spesifik tentang “kalo bisa dari PT (perguruan tinggi) ini atau itu”, biasanya hal ini lebih dikarenakan kemampuan spesifik atau jurusan dan konsentrasi belajar yang dituju dari PT tersebut (misalkan mau nyari IT yang handal berarti dari PT XX, atau bekerja di pertambangan berarti PT XXX). Nah, ada yang perlu saya garis bawahi dari persyaratan administrasi yang biasanya sering jadi momok para freshgraduate, yaitu PENGALAMAN. Mari kita telusuri hal ini lebih jauh.
Banyak lowongan pekerjaan yang mensyaratkan faktor pengalaman kerja sebagai hal yang sebisa mungkin juga dimiliki oleh fresh graduate atau calon pencari kerja yang lain. Mungkin anda semua akan berpikir bagaimana bisa kalo seorang fresh graduate memiliki pengalaman kerja? Jawabannya mungkin saja! Bahkan sangat mungkin! Hampir sebagian besar dari kita menjalani proses perkuliahan itu dengan aktifitas kuliah, kos, REFRESHING. Kata refreshing saya perbesar karena ternyata banyak waktu kita terbuang hanya untuk nongkrong, santai dan kegiatan remeh temeh lainnya. Sehingga sewaktu wawancara kita ditanyakan tentang aktifitas apa selain kuliah yang kita lakukan, kita kebingungan atau mungkin malu untuk menyebutkannya dan akhirnya kita tersadar betapa kurang kompetitifnya kita. Perusahaan menginginkan calon karyawan yang siap kerja, baik dari segi kemampuan teknis, adaptasi, karakter, kedisiplinan kerja, sikap kerja dll. Nah apabila rekan2 sudah pernah bekerja, maka harapannya individu tersebut sudah pernah merasakan tekanan kerja dan berbagai aspek dari pekerjaan yang dilakukannya terdahulu. Sehingga individu tersebut sudah cukup terbentuk dan mengerti bagaimana harus tampil optimal di lingkungan kerjanya.
Bagi rekan2 yang ingin memiliki pengalaman bekerja di sebuah perusahaan. Bisa dengan alternatif kerja MAGANG. Hal ini yang belum biasa kita lakukan. Padahal di beberapa negara maju hal ini cukup sering dan sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh mereka bahkan sejak mereka masih menginjak usia remaja (SMU). Mereka dibiasakan dan dikondisikan untuk merasakan dunia kerja sejak awal. Dengan harapan dapat menjadi pribadi yang lebih mandiri dan terbiasa bekerja serta bisa me-manage waktu dengan lebih baik lagi. Nah apa saja kelebihan dan keuntungan dari bekerja magang? Ada banyak manfaat yang mungkin akan saya bahas beberapa saja pada artikel kali ini.
Bertambah Pengalaman Kerja
Ketika kita bekerja magang, maka kita akan belajar banyak hal baru yang tidak kita dapatkan di kampus. Akan lebih baik lagi apabila kita bekerja magang di perusahaan yang sesuai dengan jurusan kuliah kita. Sehingga kita bisa mengaplikasikan ilmu yang secara teoritis kita dapatkan dari kampus.
Meningkatkan Kompetensi yang kita miliki
Bekerja magang walaupun Cuma 3–6 bulan akan membentuk dan meningkatkan skill, pengetahuan dan kedisiplinan selama anda sungguh-sungguh ingin belajar dan mengembangkan kemampuan. Apapun tugas yang diberikan pada anda ketika magang sebisa mungkin kerjakan dengan sungguh-sungguh. Karena dari setiap tugas yang anda kerjakan mengandung unsur ‘melatih’ suatu kemampuan tertentu yang dibutuhkan dari pekerjaan tersebut. Sehingga anda benar-benar dapat merasakan manfaat dari kerja magang. Intinya kita harus membuka wawasan dan keinginan untuk belajar seluas mungkin, jangan mudah merasa puas akan kemampuan yang anda miliki sekarang, ingatlah pepatah ‘di atas langit masih ada langit’.
Mengetahui Etos Kerja
Ketika kita pertama kali bekerja akan timbul beberapa permasalahan adaptasi terhadap lingkungan kerja yang terasa baru bagi kita. Termasuk aspek kedisiplinan, pola kerja, dan nilai2 kehidupan yang kita dapatkan ditempat kerja tersebut. Satu hal yang pasti, ada jenjang perbedaan yang cukup jauh antara dunia kuliah dan dunia kerja. Di perusahaanlah anda dapat memperkecil perbedaan tersebut.
Menjalin Networking
Anda perlu memperluas jaringan yang anda miliki. Di lingkungan tempat anda magang, jika anda bekerja dengan baik dan berperilaku sopan maka anda bisa mendapatkan tambahan rekan dan bahkan rekomendasi dari perusahaan tempat anda bekerja. Rekomendasi ini bisa anda gunakan jika anda ingin bekerja secara lebih mantap di masa yang akan datang.
Belajar Hidup Mandiri
Kita mungkin sudah dibiasakan untuk hidup ‘disuplai’ secara keuangan oleh orang tua kita. Sehingga kita terbiasa untuk menerima dibandingkan untuk mencari dan memberi. Dengan kerja magang anda diharapkan mampu mencari sumber pendapatan sendiri diluar suplai dari orang tua (walaupun mungkin pendapatan anda belum mampu mencukupi kebutuhan anda secara keseluruhan). Dan hal ini secara mental dapat membantu anda. Percayalah bahwa ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri apabila kita sudah mendapatkan penghasilan sendiri, tanpa teralu memperdulikan berapapun yang kita terima.
Efek positif magang kerja tidak hanya dapat dirasakan bagi mereka yang ingin kerja di perusahaan idaman. Namun juga bisa dirasakan oleh mereka yang hendak membuka usaha sendiri atau memilih untuk mengkaryakan dibanding dikaryakan. Yang jelas etos dan semangat untuk bekerja dengan tekun, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa bisa anda dapatkan ketika bekerja dan belajar di perusahaan. Intinya kita tahu cara kerja sebuah sistem di perusahaan, sehingga kalaupun kita hendak mendirikan perusahaan sendiri maka kita sudah memiliki gambaran bagaimana menjalankan sistem dan memperbaikinya dimasa mendatang. Ketika anda diwawancarai oleh tim rekrutmen sebuah perusahaan, anda juga dapat menceritakan banyak pengalaman anda dan mempromosikan diri dengan lebih baik lagi. Saran saya, jangan terlalu mengutamakan nilai nominal (gaji) yang anda dapatkan sewaktu magang, namun segi pengalaman dan mengasah seluruh potensi yang anda miliki. Saya rasa hal tersebut nilainya jauh lebih besar dibanding berapapun gaji yang anda terima. Salam sukses. Semangat selalu!!!
By
Haryo Seto A.
Kepribadian dan Pekerjaan Kita
February 14th, 2009 Tags: kepribadian dan pekerjaan Posted in Career Adventure | No Comments »
Hal yang terbaik saat pertama orang berkarir adalah cocoknya kepribadian dan pekerjaan yang dipilihnya. Di saat pengetahuan dan skill dapat dilatih selama beberapa waktu, maka tidak dengan kepribadian. Kepribadian membutuhkan waktu yang lama untuk dibentuk. Kepribadian kemudian menjadi hal sangat penting dalam karir seseorang. Banyak perusahaan yang sangat concern terhadap kepribadian setiap calon karyawan yang akan direkrutnya. Alasannya satu, kepribadian sangat menentukan performance dalam bekerja.
Apakah pekerjaan Anda sudah sesuai dengan tipe kepribadian Anda? Termasuk tipe kepribadian apakah Anda? Bagi yang belum bekerja, cermati diri Anda dan pilih pekerjaan yang sesuai dengannya.
Kita bisa cek tipe kepribadian dengan menggunakan DISC, suatu alat yang diciptakan oleh William Moulton Marston. Berdasarkan teori kepribadian William Moulton Marston, manusia dibedakan menjadi 4 tipe kepribadian. Orang dikelompokkan menjadi berkepribadian Dominance, Influence, Steadiness, dan Compliance.
Dominance
Seseorang yang memiliki kepribadian dominance digambarkan sebagai orang yang memiliki ciri takut kehilangan kekuasaan pribadi atau status, memiliki keinginan untuk mengendalikan atau mengambil pimpinan, suka bersaing dan termotivasi untuk menjadi nomor satu. Selain itu, orang yang memiliki karakter dominance biasanya memiliki fokus pada tugas dan prestasi.
Kelebihan dari karakter kepribadian ini adalah memiliki motivasi yang kuat untuk sukses, risk taker, problem solver, self starter dan high ego strength. Namun, orang dengan tipe kepribadian dominance cenderung agresif dalam kondisi tertentu, temperamental, tidak menyukai rutinitas dan sulit mempercayai orang lain.
Pekerjaan yang cocok untuk tipe kepribadian ini adalah pengacara, peneliti, konsultan perencanaan, karyawan transportasi, bagian produksi, technologist, trouble shooting, pelayanan pemasaran, konsultan, insinyur dan self-employment.
Influence
Tipe kepribadian ini digambarkan sebagai orang yang optimis, punya langkah cepat, spontan dan ekspresif, emosional dan mudah dibangkitkan gairahnya, mencari persetujuan dan penerimaan. Orang dengan tipe kepribadian influence sangat menyukai kesenangan terutama dengan teman-teman.
Jenis pekerjaan yang cocok untuk tipe kepribadian influence adalah berpromosi, berdemonstrasi, pelayanan pemasaran, public relations, dosen, periklanan, hotelier, host, agen perhubungan, dan politisi.
Steadiness
Tipe kepribadian steadiness digambarkan sebagai orang yang gigih, bisa menampung, dan suka bertetangga. Orang dengan tipe kepribadian steadiness dikenal sebagai pendengar yang baik dan pekerja yang memiliki konsentrasi yang kuat dan stabil.
Pekerjaan administrasi, insinyur dan area produksi, akuntansi, penelitian dan pengembangan.
Compliance
Orang dengan tipe kepribadian compliance dikenal sebagai orang yang memiliki pikiran yang logis dan kontemplatif, inventif (suka melihat segala hal dengan cara baru), hati-hati dan menahan diri, individual serta akurat. Orang dengan kepribadian compliance lebih menyukai hal-hal yang formal dan sesuai yang “seharusnya” dengan kata lain konvensional.
Karena orang compliance merupakan orang yang akurat dan logis maka pekerjaan yang cocok dengan tipe kepribadian ini adalah perencana, insinyur, peneliti dan teknisi, akademisi, statistik, dan quality control.
Termasuk tipe kepribadian manakah Anda? Apakah pekerjaan yang anda tekuni saat ini sudah sesuai dengan tipe kepribadian Anda?
By Ika
Mengenal Bisnis Online
February 7th, 2009 Tags: bisnis online Posted in Career Adventure | 2 Comments »
Perkembangan internet sekarang sudah sedemikian majunya. Internet sebagai media komunikasi dengan multimedia semakin mempermudah orang untuk bertukar informasi. Sebagai contoh, di awal tahun 2006 dengan Yahoo Messenger kita bisa mengirim pesan singkat berupa kata atau kalimat kepada rekan-rekan kita namun kini dengan bantuan web camera dan headphone kita sudah bisa melihat langsung lawan bicara kita sekaligus bercakap-cakap dengannya. Fantastis!
Dengan banyaknya pemakai internet dan juga semakin akrabnya orang dengan media ini, maka internet kini pun sudah umum digunakan untuk tujuan bisnis. Banyaknya pengguna dan pengakses internet dimanfaatkan oleh perusahaan untuk mengiklankan dan menjual produknya. (more...)
Store Online Business dan Paid Review
February 7th, 2009 Tags: Store Online Business dan Paid review Posted in Career Adventure | 1 Comment »
Semakin banyaknya pengakses internet menjadikan internet sebagai ladang pemasaran yang sangat efektif. Penawaran produk lewat internet semakin banyak digunakan oleh banyak perusahaan untuk memperkenalkan dan memasarkan produknya.
Apabila anda berkeinginan untuk memasarkan atau menjual produk anda lewat internet ada beberapa langkah yang dapat anda lakukan, antara lain: (more...)
Phobia Psikotes!
February 3rd, 2009 Posted in Career Adventure | No Comments »
Banyak rekan pencari kerja (saya sebut kemudian dengan nama jobseeker) memiliki ketakutan tersendiri ketika harus berhadapan dengan suatu kegiatan yang bernama “Psikotes”. Ada perasaan gundah, grogi, khawatir, dan takut berlebihan atau berkembang menjadi perasaan skeptis, benci, putus asa atau bahkan muak setiap kali berhadapan dengan Psikotes (yang model begini biasanya sudah belasan kali gagal Psikotes). Pernah salah satu rekan saya mengungkapkan kekesalannya karena berulang kali gagal dalam salah satu proses seleksi ini, “Saya sampai paham psikotes, hafal soalnya tapi gak tau jawabannya hehehe... Ada tidak ya, yang jual kunci jawabannya?” (more...)
Sukses Pada 60 Hari Pertama Kerja dan Hari Berikutnya
January 20th, 2009 Posted in Career Adventure | No Comments »
Saat ini persaingan dalam dunia kerja semakin ketat dan menantang. Jumlah pekerjaan yang terbatas dan tidak sebanding dengan banyaknya jumlah angkatan siap kerja menyebabkan situasi kompetisi tidak terelakkan. Hanya orang-orang terbaiklah yang akan berhasil menjadi pemenang.
Ketika seseorang berhasil masuk dunia kerja, tantangan selanjutnya adalah penyesuaian diri dengan lingkungan tempat kerja yang baru. Kemampuan untuk menyesuaikan diri di masa awal kerja akan sangat menentukan keberhasilan seorang pekerja baru. Tidak sedikit pekerja baru gagal di awal masa pekerjaan mereka akibat (more...)
|