|
Apa Itu Training?
April 12th, 2009 Tags: training Posted in Career Adventure |
Secara ilmiah training mirip dengan terapi behavioral kognitif, dimana perubahan perilaku diawali dengan perubahan pola pikir (kognitif). Hanya saja, perbedaan mendasar antara training dan terapi tersebut adalah siapa yang berhak melakukanya. Dalam dunia training, siapapun bisa jadi trainer (sebutan bagi pelatih training_red) asalkan memiliki kemampuan dan kemauan dalam materi training yang akan dibawakan. Sedangkan pada terapi behavioral kognitif, haruslah orang dari kalangan bidang ilmu tertentu (psikologi) yang boleh melakukannya.
Suatu kegiatan dapat disebut training jika :
- Ada peserta, baik seorang maupun lebih.
- Terdapat seorang sebagai trainer/instruktur.
- Dilakukan di dalam dan atau di luar ruangan.
- Memiliki tujuan memberikan pemahaman, penguatan, pengetahuan dan keterampilan.
- Dalam proses training disertai dengan latihan praktis sesuai dengan jenis maupun prosedur.
- Memiliki hasil berupa perubahan pola pikir atau perilaku peserta ke arah yang diinginkan (sesuai dengan program).
Mengapa training tak menghasilkan perubahan?
Terdapat komentar dari beberapa peserta training yang diantaranya mengeluhkan tidak adanya perubahan yang berarti setelah dirinya ikut dalam suatu program training. padahal, training diadakan guna memberikan motivasi baru dan nantinya diharapkan ada perubahan kearah positif seperti perubahaan pola pikir maupun perilaku. Hal tersebut biasanya terjadi antara lain jika :
- Trainer kurang percaya diri dan kurang menguasai materi. Hal tersebut akan berimbas pada kepercayaan peserta dan berakibat pada tidak tersampaikannya manfaat training tersebut.
- Lokasi training tidak kondusif. Hal ini biasanya jarang ditemui, namun mungkin pernah sesekali terjadi. Keadaan yang bising dan distraktor lain juga dapat mempengaruhi keberhasilan suatu training. Berdasar pengalaman, penulis pernah mengadakan pendidikan dan diklat (pelatihan) di suatu aula sebuah hotel yang ternyata ketika training dilakukan, suara-suara bising dari luar terdengar jelas sehingga pembicara dipaksa untuk harus bersaing dengan suara-suara dari luar sana. Hasilnya? Banyak peserta yang mengeluhkan hal tersebut.
- Konsep training tidak sesuai dengan kriteria trainee (peserta_red). Dalam sebuah pelatihan, kesesuaian antara konsep training dan kriteria peserta mutlak dipikirkan. Hal tersebut diperlukan guna pemilihan media penghantar agar materi yang disampaikan tepat sasaran. Bayangkan saja jika training yang pesertanya adalah orang dewasa dan penyampaian training banyak menggunakan kegiatan fisik dengan media permainan? Tentu hasilnya tidak akan seoptimal ketika dilakukan dalam forum diskusi dengan gerakan-gerakan yang secukupnya. Dalam hal ini, guna kesuksesan kegiatan, panitia training hendaknya dapat memberikan batas kriteria peserta training tersebut. Sebagai contoh pada training ESQ. Training ESQ merupakan pelatihan kepemimpinan yang berbasis spiritual. Agar penyampaian materi dapat optimal maka dalam training ESQ dibedakan menjadi beberapa kelompok yakni, kids, teens, mahasiswa, regular(professional dan eksekutif). Pembedaan kelompok usia di sini dimaksudkan agar trainer dapat memilih dan memasukan materi dengan ‘cara’ sesuai dengan karakteristik umum trainee-nya.
- Terdapat jarak antara trainer dengan trainee yang tidak dihilangakan. Demi suksesnya suatu training, seorang trainer harus dapat membaur dengan trainee. Solusinya dengan melakukan ice breaking. Ice breaking dapat dilakukan dengan memberikan permainan-permainan ringan untuk mencairkan suasana kepada trainee di awal kegiatan. Bisa juga dengan berdialog interaktif pada sesi pembuka. Hal tersebut dapat menghilangkan atau setidaknya menipiskan jarak antara trainer dengan trainee-nya. Setelah jarak tersebut hilang, maka materi akan lebih mudah tersampaikan. Namun tunggu dulu! penggunaan ice breaking yang tidak sesuai justru dapat menambah jarak atau bahkan mengurangi tingkat kepercayaan trainee terhadap trainer-nya. Untuk itu, pemilihan permainan maupun metode pendekatan pada saat ice breaking mutlak disesuaikan dengan keadaan trainee. Tidak percaya? Silahkan mencoba!
By
Nanda
Related Posts:Dahsyatnya “SMART TRAINER CLASS”One Stop To Be a Great TrainerKekar Event
|